Selasa, 02 Januari 2018

Ganjil Sastra dan Sekitarnya


Judul: Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan
Penulis: Roberto Bolano
Penerbit: Cantrik Pustaka
Cetakan: Pertama, Juni 2017
Tebal: 146 halaman; 12 x 18 cm
ISBN: 978-602-6645-10-4

Kafe-kafe di Paris dianggap ruang perjumpaan dan pangkal sebaran sastra dunia. Kita bisa menilik artikel berjudul Cafe Paris di majalah Selecta nomor 358 tahun ke-10, 29 Juli 1968. Dalam artikel itu tertulis bahwa kafe-kafe di Paris telah menjadi “tempat seniman2 menulis sjair dan novel mereka. Disitulah tempat berdiskusi tentang literatur, filsafat dan politik.” Ilustrasi lebih luwes pun tertampilkan melalui sekian film, salah satunya Midnight in Paris (2011) yang ditulis dan disutradarai Woody Allen sekaligus. Film mengisahkan perjumpaan imajiner antara Gil Pender, penulis pemula, dengan para penulis kondang di masa lalu seperti Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, T.S. Elliot, dan lain-lain. Perjumpaan itu selalu terjadi di kafe-kafe Paris, pada tengah malam seusai dentang lonceng.

Jumat, 22 Desember 2017

Adalah yang Melimpah


Kita sangat mudah menjumpai “adalah” dalam esai alias tulisan-tulisan nonfiksi. Cobalah minta murid sekolah atau mahasiswa menulis tentang masjid, misalnya, hampir semuanya akan memulai dengan “masjid adalah...” Itu terjadi beberapa kali ketika saya mendampingi murid sekolah dan mahasiswa belajar menulis esai. Adalah sudah menjadi kata andalan yang setidaknya dapat membantu penulis menyelesaikan kalimat pertama. Adalah sering muncul sebagai kata kedua, dengan maksud memberi definisi, pengertian, atau penjelasan. Penulis yang percaya pada kata itu tinggal memikirkan kalimat kedua, mengingat kalimat pertama telah dibereskan adalah.

Menghayati Amerika Latin


Judul: Dari Adat ke Politik: Transformasi Gerakan Sosial di Amerika Latin
Penulis: Nur Iman Subono
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Pertama, April 2017
Tebal: xvi + 266 hlm; 148 x 220 mm
ISBN: 978-979-1260-67-1

Minat dapat datang begitu saja, tapi etos teruji sebentang waktu. Kita menjumpai tulisan berjudul Gerakan “Kiri” di Amerika Latin dalam Prisma nomor 3 tahun XXIII, Maret 1994. Tulisan tersebut ditulis Nur Iman Subono, sebentuk ulasan terhadap buku The Latin American Left: From the Fall of Allende to Perestroika (1993). Ulasan buku di Prisma itu menampilkan Nur Iman sebagai pengulas dan pengkritik buku-buku ihwal perpolitikan Amerika Latin. Tahun-tahun berjalan, Nur Iman beranjak menjelma pakar politik Amerika Latin di Indonesia. Hari ini, kita bisa membaca buku apiknya berjudul Dari Adat ke Politik: Transformasi Gerakan Sosial di Amerika Latin (2017). Buku Nur Iman itu diterbitkan Marjin Kiri, salah satu penerbit “berbahaya” dalam tematik sosial-politik.